Ku awali pagi ini dengan sarapan bersama ibu dan ayahku tersayang. Di
luar rumahku langit sangat cerah tetapi tidak dengan hatiku, tentu saja
tidak, entah keberapa kalinya aku pindah sekolah, tentu saja aku yang
meminta bukan ayahku yang memaksa karena aku memang tidak nyaman dengan
sekolahku yang lama. Ku hela napas lelah, entah aku akan nyaman dengan
sekolah baruku ini atau tidak, entah aku akan bisa berbaur dengan mudah
atau tidak. Aku masih takut akan hal-hal yang terjadi di sekolahku yang
lama, sulit bergaul, tidak punya teman, semua menjauhiku seolah aku ini
virus mematikan jika mereka berbicara padaku, bukan hanya berbicara
bahkan menatapku saja enggan.
Aku tidak tahu kenapa mereka menjauhiku, pernah aku menanyakan kepada
teman-temanku di sekolah lamaku, kenapa mereka menjauhiku? mereka hanya
menatapku sinis dan menjawab jika aku mempunyai kelebihan. Aku hanya
tertawa pahit saat mendengar mereka mengatakan itu, tentu saja aku tahu
apa maksud mereka mengatakan aku mempunyai kelebihan. Mungkin maksud
kalian kelebihan yang dimaksud temanku adalah otakku yang cerdas
sehingga teman-temanku minder terhadapku, tapi bukan itu, kelebihan yang
mereka makdud adalah berat badanku.
Ya, memang berat badanku melebihi teman-temanku yang lainnya.
Teman-temanku selalu mengejekku dengan menyebutku gemuk, aku tahu jika
aku gemuk tapi apa sebegitu aku tidak pantas berada di lingkungan mereka
sehingga sikap mereka begitu buruk padaku. Kata-kata mereka seolah
menjadi sengatan listrik bagiku. Sejak itu aku menjadi pendiam, tidak
ada yang mau menjadi temanku walau hanya seorang pun, menyedihkan bukan?
Itulah aku. It’s me.
Gadis gemuk yang tidak pandai bergaul. Memang seharusnya aku bisa
kuat dengan kata-kata mereka, tapi kenyataannya tidak, aku lemah, aku
selalu menangis setiap pulang sekolah saat mereka mengejekku. Walaupun
aku sudah berusaha mengabaikan kata-kata mereka tapi tetap saja hatiku
sakit saat mereka mengejekku, ibukulah yang selalu menjadi malaikat
penolong bagiku, dengan sabar ibuku selalu menenangkanku dengan pelukan
hangatnya dan elusan tangan lembutnya. Aku sangat bersyukur mempunyai
ibu seperti ibuku.
Hari ini aku memasuki sekolah baruku, sekolah ini terlihat lebih
mewah dan lebih besar daripada sekolah-sekolahku yang dulu, tapi aku
tidak mempedulikan sekolah besar atau tidak karena yang terpenting aku
bisa mencari ilmu dan bisa mendapatkan teman di sini. Sudah ku duga,
mereka seperti tidak menerima kehadiranku di sekolah ini bukan seperti
tapi memang tidak menginginkan aku menjadi teman mereka, saat perkenalan
pun mereka sangat cuek padaku. Bahkan aku duduk di pojok paling
belakang sendirian, menyebalkan. Saat istirahat pun aku hanya diam di
dalam kelas sendirian, aku tahu jika aku ke luar maka teman-temanku akan
mengejekku.
“Hai,” suara seseorang mengagetkanku yang sedang melamun.
Aku segera melihat siapa yang baru saja menyapaku, seorang wanita
cantik di kelasku yang baru saja menyapaku, apa aku mimpi? Wanita
tercantik di kelasku baru saja menyapaku?
“Apa kau baru saja menyapaku?” tanyaku pada Caca, wanita cantik itu. Dia
hanya terkekeh geli saat aku menanyakan itu. Apa ada yang lucu?
“Tentu saja aku menyapamu, kamu pikir aku menyapa siapa karena di kelas
ini hanya ada kamu dan aku,” jawabnya, memang benar jika saat ini hanya
ada aku dan dia di dalam kelas.
“Kenapa kau menyapaku?” tanyaku ragu, karena aku belum pernah disapa oleh siapa pun yang menjadi temanku.
“Memangnya aku tidak boleh menyapamu?” tanyanya balik, lalu dia duduk di kursi depan mejaku.
“Boleh, boleh,” ucapku dengan cepat.
“Apa kamu tidak pergi ke kantin untuk makan?” dia memulai obrolan setelah beberapa menit hening.
“Tidak, aku belum lapar,” ucapku karena memang aku belum lapar hingga saat ini.
“Oh, baiklah kalau begitu, aku pergi ke kantin dulu ya? Apa kamu tidak mau ikut?”
“Tidak usah, aku di sini saja,” Caca hanya mengangguk lalu pergi dari
hadapanku, mungkin dia pergi ke kantin. Caca bersikap baik padaku, apa
aku bisa berteman dengannya?
—
Aku berjalan dengan pandangan tertunduk menyusuri koridor sekolah,
saat bel pulang berbunyi aku langsung membereskan buku-bukuku dan segera
pergi dari kelas. Aku ingin cepat pulang.
“Hei paus, kenapa kau berjalan terburu-buru sekali?” tanya seseorang
padaku, seketika aku langsung berhenti berjalan dan melihat siapa yang
berbicara padaku dengan mengataiku paus, sangat-sangat menyebalkan.
Ternyata dia Icha dengan gengnya yang ku tahu teman sekelasku juga,
wanita tercentil yang pernah ku kenal. Tanpa menghiraukan pertanyaannya,
aku kembali melangkah dengan cepat, tapi aku kalah cepat dengan Icha,
dia dan teman-temannya menghadang jalan yang akan aku lewati.
“Apa kau tidak mendengar pertanyaanku paus?” tanyanya dengan sinis,
aku menatapnya dengan penuh emosi dia pun menatapku dengan pandangan
menantang.
“Apa kau tidak bisa berhenti memanggilku paus? Apa mulutmu tidak pernah
bersekolah atau tidak pernah diajarkan oleh orangtuamu cara berbicara
yang baik?” tanyaku padanya, emosiku benar-benar naik saat dia
memanggilku paus. “Apa kau bilang?! Apa kau tidak melihat tubuhmu yang
gemuk bagaikan paus yang besar?! Dan aku tidak bisa berhenti memanggilmu
dengan sebutan paus karena panggilan itu memang cocok denganmu!”
Deg. Perkataan Icha sangat menyakitkan, mulutnya begitu pedas walau
parasnya sangat cantik. Semua orang yang melihatku dan Icha segera
mendekat kepada kami, mereka mungkin ingin tahu apa yang terjadi padaku.
“Berhenti memanggilnya paus atau gemuk, Icha,” suara Caca berhasil
mengalihkan pandanganku dari Icha. Aku melihat Caca mendekat ke arah
kami. Saat ini Caca bagaikan penyelamatku yang ku tunggu selama ini jika
ada seseorang yang selalu mengejekku.
“Apa kau baru saja membela paus ini, Caca?” tanya Icha dengan pandangan sinisnya.
“Apa menurutmu aku membelamu?” Caca menjawab dengan suara datar. Ku
lihat Icha semakin emosi atas perkataan Caca, entah kenapa aku tidak
tahu.
“Jadi sekarang kau memilih berteman dengan paus ini daripada denganku?!” ucapnya dengan emosi.
“Tentu saja aku memilih berteman dengan Lia daripada berteman denganmu yang hanya memanfaatkan hartaku?”
Ya. Aku memang pernah mendengar jika Caca adalah orang terkaya di
sekolah ini, ayahnya memiliki beberapa perusahaan besar di kotaku. Kedua
wanita ini hanya saling menatap dengan penuh kebencian, sedangkan aku
hanya diam tidak bisa melakukan apa pun, akulah yang menyebabkan Caca
dan Icha bertengkar. Ini memang salahku. “Apa kau bilang?! Aku tidak
akan pernah mau menjadi temanmu lagi!” ucap Icha dengan suara tinggi
lalu pergi begitu saja dan diikuti oleh beberapa temannya. Setelah Icha
pergi, aku hanya diam sedangkan Caca menundukkan kepalanya, dia terlihat
sedih saat Icha mengatakan hal tadi. Dengan ragu ku elus punggung Caca
yang sedikit bergetar. Sedangkan semua orang yang tadi menonton
pertengkaranku dan Icha sudah pergi begitu saja.
“Maaf,” gumamku pada Caca, aku sangat merasa bersalah atas kejadian ini.
“Tidak apa-apa,” lalu tanpa disangka-sangka, Caca memelukku dan aku
mendengar isakkan kecil lalu lama kelamaan menjadi sebuah tangisan.
Dengan ragu aku membalas pelukannya dan mengelus punggungnya yang
bergetar. Caca menangis dalam pelukanku. Setelah cukup lama, akhirnya
Caca berhenti menangis.
“Maaf, aku hanya terbawa suasana,” ucapnya pelan tapi aku bisa mendengarnya.
“Tidak apa-apa, harusnya aku yang meminta maaf karena membuat kamu dan Icha bertengkar,”
“Tidak, memang sudah seharusnya aku tidak berteman dengan Icha yang hanya memanfaatkan kekayaanku,”
Hening sesaat.
“Maukah kau menjadi temanku Lia, maksudku sahabatku?” aku ternganga
oleh ucapan Caca, wanita cantik itu ingin berteman denganku? Tapi jika
aku berteman dengannya apa dia akan selalu diejek oleh teman-temanku
yang lain termasuk Icha? “Apa kamu tidak takut jika berteman denganku,
kamu akan diejek oleh yang lain?”
“Tidak akan ada yang berani mengejekku ataupun kamu jika kamu mau menjadi sahabatku,”
“Benarkah? Tapi kenapa kamu mau berteman denganku? Aku tidak mempunyai
kelebihan apa pun, aku hanya punya kelebihan berat badan, sedangkan
kamu, kamu memiliki segalanya, kamu tidak memiliki kekurangan
sepertiku,”
“Aku juga memiliki kekurangan Lia, aku kesepian, teman-temanku hanya
ingin berteman denganku karena uangku saja, orangtuaku selalu pergi ke
luar negeri untuk urusan bisnis, aku begitu kesepian setiap hari,”
“jika kamu mau menjadi sahabatku, aku berjanji tidak akan pernah
membuatmu terluka dengan ejekan mereka, aku akan selalu ada saat kamu
membutuhkanku, dan kamu juga selalu ada saat aku membutuhkanmu,”
lanjutnya.
“Baiklah, aku ingin menjadi sahabatmu, aku berjanji akan selalu ada
untukmu dan tidak membuat kamu kesepian lagi Ca, aku janji,” ucapku
dengan mantap. Aku yakin Caca akan menjadi sahabatku, dan aku yakin
Cacalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi sahabatku. “Aku janji
akan selalu ada untuk kamu Li, inilah janji kita, saling melengkapi,”
Selesai