Rabu, 17 Februari 2016

persahabatan itu no 1 :* jangan saakitin perasaan sahabatmu,dan jangan pernah engkau membuat dia sakit hati :'( karna sahabatlah yang selalu ada disampingmu :) 
love you my best friend :*

Janji Kita

Ku awali pagi ini dengan sarapan bersama ibu dan ayahku tersayang. Di luar rumahku langit sangat cerah tetapi tidak dengan hatiku, tentu saja tidak, entah keberapa kalinya aku pindah sekolah, tentu saja aku yang meminta bukan ayahku yang memaksa karena aku memang tidak nyaman dengan sekolahku yang lama. Ku hela napas lelah, entah aku akan nyaman dengan sekolah baruku ini atau tidak, entah aku akan bisa berbaur dengan mudah atau tidak. Aku masih takut akan hal-hal yang terjadi di sekolahku yang lama, sulit bergaul, tidak punya teman, semua menjauhiku seolah aku ini virus mematikan jika mereka berbicara padaku, bukan hanya berbicara bahkan menatapku saja enggan.
Aku tidak tahu kenapa mereka menjauhiku, pernah aku menanyakan kepada teman-temanku di sekolah lamaku, kenapa mereka menjauhiku? mereka hanya menatapku sinis dan menjawab jika aku mempunyai kelebihan. Aku hanya tertawa pahit saat mendengar mereka mengatakan itu, tentu saja aku tahu apa maksud mereka mengatakan aku mempunyai kelebihan. Mungkin maksud kalian kelebihan yang dimaksud temanku adalah otakku yang cerdas sehingga teman-temanku minder terhadapku, tapi bukan itu, kelebihan yang mereka makdud adalah berat badanku.
Ya, memang berat badanku melebihi teman-temanku yang lainnya. Teman-temanku selalu mengejekku dengan menyebutku gemuk, aku tahu jika aku gemuk tapi apa sebegitu aku tidak pantas berada di lingkungan mereka sehingga sikap mereka begitu buruk padaku. Kata-kata mereka seolah menjadi sengatan listrik bagiku. Sejak itu aku menjadi pendiam, tidak ada yang mau menjadi temanku walau hanya seorang pun, menyedihkan bukan? Itulah aku. It’s me.
Gadis gemuk yang tidak pandai bergaul. Memang seharusnya aku bisa kuat dengan kata-kata mereka, tapi kenyataannya tidak, aku lemah, aku selalu menangis setiap pulang sekolah saat mereka mengejekku. Walaupun aku sudah berusaha mengabaikan kata-kata mereka tapi tetap saja hatiku sakit saat mereka mengejekku, ibukulah yang selalu menjadi malaikat penolong bagiku, dengan sabar ibuku selalu menenangkanku dengan pelukan hangatnya dan elusan tangan lembutnya. Aku sangat bersyukur mempunyai ibu seperti ibuku.
Hari ini aku memasuki sekolah baruku, sekolah ini terlihat lebih mewah dan lebih besar daripada sekolah-sekolahku yang dulu, tapi aku tidak mempedulikan sekolah besar atau tidak karena yang terpenting aku bisa mencari ilmu dan bisa mendapatkan teman di sini. Sudah ku duga, mereka seperti tidak menerima kehadiranku di sekolah ini bukan seperti tapi memang tidak menginginkan aku menjadi teman mereka, saat perkenalan pun mereka sangat cuek padaku. Bahkan aku duduk di pojok paling belakang sendirian, menyebalkan. Saat istirahat pun aku hanya diam di dalam kelas sendirian, aku tahu jika aku ke luar maka teman-temanku akan mengejekku.
“Hai,” suara seseorang mengagetkanku yang sedang melamun.
Aku segera melihat siapa yang baru saja menyapaku, seorang wanita cantik di kelasku yang baru saja menyapaku, apa aku mimpi? Wanita tercantik di kelasku baru saja menyapaku?
“Apa kau baru saja menyapaku?” tanyaku pada Caca, wanita cantik itu. Dia hanya terkekeh geli saat aku menanyakan itu. Apa ada yang lucu?
“Tentu saja aku menyapamu, kamu pikir aku menyapa siapa karena di kelas ini hanya ada kamu dan aku,” jawabnya, memang benar jika saat ini hanya ada aku dan dia di dalam kelas.
“Kenapa kau menyapaku?” tanyaku ragu, karena aku belum pernah disapa oleh siapa pun yang menjadi temanku.
“Memangnya aku tidak boleh menyapamu?” tanyanya balik, lalu dia duduk di kursi depan mejaku.
“Boleh, boleh,” ucapku dengan cepat.
“Apa kamu tidak pergi ke kantin untuk makan?” dia memulai obrolan setelah beberapa menit hening.
“Tidak, aku belum lapar,” ucapku karena memang aku belum lapar hingga saat ini.
“Oh, baiklah kalau begitu, aku pergi ke kantin dulu ya? Apa kamu tidak mau ikut?”
“Tidak usah, aku di sini saja,” Caca hanya mengangguk lalu pergi dari hadapanku, mungkin dia pergi ke kantin. Caca bersikap baik padaku, apa aku bisa berteman dengannya?

Aku berjalan dengan pandangan tertunduk menyusuri koridor sekolah, saat bel pulang berbunyi aku langsung membereskan buku-bukuku dan segera pergi dari kelas. Aku ingin cepat pulang.
“Hei paus, kenapa kau berjalan terburu-buru sekali?” tanya seseorang padaku, seketika aku langsung berhenti berjalan dan melihat siapa yang berbicara padaku dengan mengataiku paus, sangat-sangat menyebalkan. Ternyata dia Icha dengan gengnya yang ku tahu teman sekelasku juga, wanita tercentil yang pernah ku kenal. Tanpa menghiraukan pertanyaannya, aku kembali melangkah dengan cepat, tapi aku kalah cepat dengan Icha, dia dan teman-temannya menghadang jalan yang akan aku lewati.
“Apa kau tidak mendengar pertanyaanku paus?” tanyanya dengan sinis, aku menatapnya dengan penuh emosi dia pun menatapku dengan pandangan menantang.
“Apa kau tidak bisa berhenti memanggilku paus? Apa mulutmu tidak pernah bersekolah atau tidak pernah diajarkan oleh orangtuamu cara berbicara yang baik?” tanyaku padanya, emosiku benar-benar naik saat dia memanggilku paus. “Apa kau bilang?! Apa kau tidak melihat tubuhmu yang gemuk bagaikan paus yang besar?! Dan aku tidak bisa berhenti memanggilmu dengan sebutan paus karena panggilan itu memang cocok denganmu!”
Deg. Perkataan Icha sangat menyakitkan, mulutnya begitu pedas walau parasnya sangat cantik. Semua orang yang melihatku dan Icha segera mendekat kepada kami, mereka mungkin ingin tahu apa yang terjadi padaku. “Berhenti memanggilnya paus atau gemuk, Icha,” suara Caca berhasil mengalihkan pandanganku dari Icha. Aku melihat Caca mendekat ke arah kami. Saat ini Caca bagaikan penyelamatku yang ku tunggu selama ini jika ada seseorang yang selalu mengejekku.
“Apa kau baru saja membela paus ini, Caca?” tanya Icha dengan pandangan sinisnya.
“Apa menurutmu aku membelamu?” Caca menjawab dengan suara datar. Ku lihat Icha semakin emosi atas perkataan Caca, entah kenapa aku tidak tahu.
“Jadi sekarang kau memilih berteman dengan paus ini daripada denganku?!” ucapnya dengan emosi.
“Tentu saja aku memilih berteman dengan Lia daripada berteman denganmu yang hanya memanfaatkan hartaku?”
Ya. Aku memang pernah mendengar jika Caca adalah orang terkaya di sekolah ini, ayahnya memiliki beberapa perusahaan besar di kotaku. Kedua wanita ini hanya saling menatap dengan penuh kebencian, sedangkan aku hanya diam tidak bisa melakukan apa pun, akulah yang menyebabkan Caca dan Icha bertengkar. Ini memang salahku. “Apa kau bilang?! Aku tidak akan pernah mau menjadi temanmu lagi!” ucap Icha dengan suara tinggi lalu pergi begitu saja dan diikuti oleh beberapa temannya. Setelah Icha pergi, aku hanya diam sedangkan Caca menundukkan kepalanya, dia terlihat sedih saat Icha mengatakan hal tadi. Dengan ragu ku elus punggung Caca yang sedikit bergetar. Sedangkan semua orang yang tadi menonton pertengkaranku dan Icha sudah pergi begitu saja.
“Maaf,” gumamku pada Caca, aku sangat merasa bersalah atas kejadian ini.
“Tidak apa-apa,” lalu tanpa disangka-sangka, Caca memelukku dan aku mendengar isakkan kecil lalu lama kelamaan menjadi sebuah tangisan.
Dengan ragu aku membalas pelukannya dan mengelus punggungnya yang bergetar. Caca menangis dalam pelukanku. Setelah cukup lama, akhirnya Caca berhenti menangis.
“Maaf, aku hanya terbawa suasana,” ucapnya pelan tapi aku bisa mendengarnya.
“Tidak apa-apa, harusnya aku yang meminta maaf karena membuat kamu dan Icha bertengkar,”
“Tidak, memang sudah seharusnya aku tidak berteman dengan Icha yang hanya memanfaatkan kekayaanku,”
Hening sesaat.
“Maukah kau menjadi temanku Lia, maksudku sahabatku?” aku ternganga oleh ucapan Caca, wanita cantik itu ingin berteman denganku? Tapi jika aku berteman dengannya apa dia akan selalu diejek oleh teman-temanku yang lain termasuk Icha? “Apa kamu tidak takut jika berteman denganku, kamu akan diejek oleh yang lain?”
“Tidak akan ada yang berani mengejekku ataupun kamu jika kamu mau menjadi sahabatku,”
“Benarkah? Tapi kenapa kamu mau berteman denganku? Aku tidak mempunyai kelebihan apa pun, aku hanya punya kelebihan berat badan, sedangkan kamu, kamu memiliki segalanya, kamu tidak memiliki kekurangan sepertiku,”
“Aku juga memiliki kekurangan Lia, aku kesepian, teman-temanku hanya ingin berteman denganku karena uangku saja, orangtuaku selalu pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, aku begitu kesepian setiap hari,”
“jika kamu mau menjadi sahabatku, aku berjanji tidak akan pernah membuatmu terluka dengan ejekan mereka, aku akan selalu ada saat kamu membutuhkanku, dan kamu juga selalu ada saat aku membutuhkanmu,” lanjutnya.
“Baiklah, aku ingin menjadi sahabatmu, aku berjanji akan selalu ada untukmu dan tidak membuat kamu kesepian lagi Ca, aku janji,” ucapku dengan mantap. Aku yakin Caca akan menjadi sahabatku, dan aku yakin Cacalah orang yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi sahabatku. “Aku janji akan selalu ada untuk kamu Li, inilah janji kita, saling melengkapi,”
Selesai